Suatu hari aku resmi menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Solo.
Sebagai anak desa yang baru pertama kali menginjak kampus sebesar itu, aku benar-benar nggumun. Gedungnya tinggi, pepohonannya rindang, tamannya rapi. Rasanya seperti masuk dunia lain, dunia di mana semua orang terlihat pintar, sementara aku masih bingung mencari kantin.
Di sudut gedung, berdiri seorang laki-laki gagah. Wajahnya tenang, posturnya tegap. Sedikit lebih tua dariku.
Dengan percaya diri ala mahasiswa baru, aku mendekat.
“Mas… asmane sinten?”
Beliau tersenyum.
Aku kembali ke kost hari itu dengan perasaan bangga karena merasa sudah kenal kakak tingkat senior.
Takdir memang punya selera humor.
Beberapa hari kemudian, di kelas pertama, orang yang sama masuk dan berdiri di depan.
“Selamat pagi. Saya Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D.”
Aku ingin menghilang di balik meja.
Ternyata bukan kakak tingkat.
Bukan mahasiswa abadi.
Beliau dosen Pendidikan Biologi. Pengampu Klasifikasi dan Keanekaragaman Hewan.
Dan aku sudah memanggilnya “Mas”.
Sebagai dosen muda, beliau dekat dengan mahasiswa. Gagah, wibawa, tapi santai. Cara mengajarnya tidak cuma teori. Kami diajak terjun langsung ke lapangan.Puncaknya: ekspedisi penelitian ke Gunung Lawu di wilayah Karanganyar.
Misinya serius: inventarisasi plankton di Telaga Madirda dan mengkaji struktur komunitas makrofauna tanah. Kedengarannya ilmiah sekali.
Tim penelitian angkatan 2002 terdiri dari tiga srikandi tangguh : Dwi Rianasari ; Briti Pulung Sari ; Dewi Puspitasari.
Sementara aku?
Spesialis terpeleset.
Pendakian dilakukan lewat berbagai jalur: Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Ngargoyoso, bahkan sampai Jogorogo.
Semangat membara.
Fisik? Ya… seadanya. Gaya? Jangan ditanya.
Aku mengenakan jaket tebal warna hijau kebesaran. Lengan jaketnya sampai menutup setengah telapak tangan. Dari jauh mungkin terlihat seperti anak hilang yang salah kostum.
Di kaki?
Sandal jepit merek Swallow.
Ya. Naik gunung pakai Swallow.
Itu bukan gaya minimalis. Itu kombinasi antara nekat dan tidak punya sepatu gunung.
Jalur makin licin. Hujan rintik turun pelan. Tanah berubah jadi lumpur.
Dan seperti takdir yang sudah menungguku…
Aku terpeleset.
Bruk.
“Haha… keserodot!” teriak teman-teman sambil tertawa.
Aku bangkit dengan wibawa yang tersisa 3%.
Belum selesai penderitaanku.
Langkah berikutnya, sandal Swallow-ku menginjak sesuatu yang teksturnya… terlalu lembut untuk jadi tanah.
Aku menoleh.
Oh tidak.
Itu bukan makrofauna.
Itu kotoran manusia.
Dalam kondisi panik dan refleks tanpa berpikir, sandal itu kuangkat… dan sempat kupegang.
Beberapa detik hening.
Lalu suara tawa meledak lebih keras dari badai. Di tengah rasa jijik, malu, dan dingin, aku sadar satu hal: Gunung Lawu bukan hanya menguji fisik. Tapi juga harga diri.
Malam hari di Lawu punya suasana berbeda.
Kabut turun perlahan. Angin menyusup di sela jaket kebesaran yang ternyata tidak terlalu membantu. Pepohonan bergesekan menghasilkan suara seperti bisikan.
Di salah satu titik pendakian, Pak Puguh berhenti sejenak dan berkata pelan,
“Di Lawu ada pitutur tua:
‘Sak duwur duwur e gunung isih duwur dengkul,
sak duwur duwur e dengkul isih duwur gundul,
sak duwur duwur e gundul isih duwur Allah Kang Maha Luhur.’”
Kami terdiam.
Di tengah gelap, kalimat itu terasa dalam.
Setinggi-tingginya gunung, masih lebih tinggi lutut.
Setinggi-tingginya lutut, masih lebih tinggi kepala yang gundul.
Dan setinggi-tingginya apa pun, tetap lebih tinggi Allah.
Angin berembus pelan.
Seolah ikut mengamini.
Tak ada suara aneh.
Tak ada desis misterius.
Hanya suara langkah kami, napas yang berat, dan sesekali celetukan,
“Awas… jangan sampai keserodot lagi!”
Ekspedisi itu penuh tawa, lumpur, Royco.
Yang paling legendaris dari ekspedisi itu bukan hanya penelitian.
Tapi masakan Pak Puguh.
Beliau ternyata hobi memasak.
Namun ada satu rahasia dapur yang konsisten:
Royco.
Semua diberi Royco.
Sayur? Royco.
Sup? Royco.
Nasi goreng? Royco.
Roti bakar?
…juga Royco.
Mungkin, kalau beliau menemukan spesies baru di Lawu, akan dinamai Makrofauna roycoensis.
Anehnya, semua tetap habis. Karena di gunung, rasa lapar mengalahkan logika.
Tapi yang paling membekas bukanlah terpelesetnya.
Bukan sandal Swallow-ku.
Bukan pula tragedi “struktur tak teridentifikasi” itu.
Melainkan pelajaran sederhana:
Kita boleh mendaki setinggi mungkin.
Meneliti sedalam mungkin.
Tertawa sekencang mungkin.
Tapi tetap harus rendah hati.
Karena di atas gunung, di tengah kabut dan gelap, kita sadar…
Manusia itu kecil.
Bahkan lebih kecil dari sandal Swallow yang salah injak tempat.
Pak Puguh bukan sekadar dosen. Beliau mengajarkan kami mencintai lingkungan. Menghormati alam. Menjaga sikap di mana pun berada.
0 Comment for "Kapan ke Lawu Lagi : Semangat Muda Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D. "