biotek multi karya

Selamat Berkarya!

IB

IBX5A91769239082
KB AL HIDAYAH DEMANGAN = MEMPERSIAPKAN ANAK KE JENJANG PENDIDIKAN YANG LEBIH TINGGI dipersembahkan oleh : Biotek Multi Karya "KAMI SIAP MELAYANI ANDA : FOTO KOPI, CETAK ULEM, DEPOSIT PULSA, PRINT, DEKORASI, RIAS PENGANTIN"

PUASA SEBAGAI INSTRUMEN PEMBENTUKAN KARAKTER

Puasa Ramadhan merupakan rukun Islam ke tiga yang memiliki dimensi ibadah sekaligus pendidikan. Dalam praktiknya, puasa tidak hanya mengatur pola makan dan minum, tetapi juga membentuk struktur kepribadian seorang Muslim. Oleh karena itu, puasa perlu dipahami bukan semata sebagai kewajiban ritual, melainkan sebagai instrumen pembentukan karakter yang sistematis dan komprehensif.

Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan puasa adalah “la‘allakum tattaqūn” — agar kamu bertakwa. Frasa ini menunjukkan bahwa orientasi puasa bersifat transformasional, bukan sekadar formalitas ibadah.

“Allah berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari No. 1904; Muslim No. 1151)

Hadis ini menunjukkan karakter unik puasa sebagai ibadah yang sangat privat. Tidak ada indikator fisik yang dapat memastikan seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya sendiri dan Allah ﷻ. Di sinilah puasa membangun muraqabah (kesadaran diawasi Allah).

Kesadaran inilah yang menjadi fondasi taqwa: kontrol diri berbasis iman, bukan berbasis pengawasan sosial.

Selain itu, Puasa melatih kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification). Individu yang berpuasa secara sadar menahan dorongan biologis yang paling mendasar—makan dan minum—selama periode waktu tertentu.

Dalam psikologi modern, kemampuan menunda kepuasan dikaitkan dengan:

  • Ketahanan mental

  • Stabilitas emosi

  • Kemampuan perencanaan jangka panjang

  • Keberhasilan akademik dan sosial

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa adalah perisai…”
(HR. Bukhari No. 1894; Muslim No. 1151)

Perisai di sini tidak hanya bermakna perlindungan dari dosa, tetapi juga proteksi psikologis dari impulsivitas dan agresivitas. Ketika seseorang mengatakan “Aku sedang berpuasa” saat diprovokasi, ia sedang melatih regulasi emosi secara sadar.

Melalui Puasa, melatih kita untuk bertransformasi moral. Puasa yang autentik tidak berhenti pada aspek fisik. Rasulullah ﷺ memperingatkan:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari No. 1903)

Hadis ini menegaskan bahwa inti puasa adalah reformasi akhlak. Tanpa perubahan moral, puasa kehilangan substansi.

Secara etis, puasa menginternalisasi nilai:

  1. Kejujuran

  2. Kesabaran

  3. Disiplin

  4. Tanggung jawab moral

Nilai-nilai ini membentuk fondasi karakter yang berkelanjutan.

Puasa yang kita laksanakan dengan sungguh-sunguh akan melatih empati dan solidaritas. Puasa juga memiliki implikasi sosial yang signifikan. Pengalaman lapar dan haus memunculkan kesadaran empatik terhadap kaum dhuafa. Tidak mengherankan jika Ramadhan menjadi bulan dengan intensitas sedekah tertinggi.

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat pada bulan Ramadhan (HR. Bukhari No. 6).

Puasa dengan demikian membangun solidaritas sosial, memperkuat kohesi komunitas, dan mengurangi kesenjangan emosional antara kelompok masyarakat.

Jika dianalisis secara menyeluruh, puasa bekerja melalui mekanisme pendidikan yang unik:

  • Latihan fisik → mengendalikan dorongan biologis

  • Latihan spiritual → meningkatkan ibadah dan refleksi diri

  • Latihan sosial → memperkuat empati dan kepedulian

  • Latihan moral → membangun integritas personal

Selama 30 hari, seorang Muslim menjalani sistem pelatihan intensif yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan spiritual. Dalam kerangka pendidikan Islam, ini dapat dipahami sebagai proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Puasa Ramadhan bukan sekadar praktik ritual, tetapi sistem pembentukan karakter berbasis wahyu. Ia membangun kesadaran Ilahi (taqwa), memperkuat pengendalian diri, mentransformasi akhlak, dan menumbuhkan solidaritas sosial. 

Keberhasilan puasa tidak diukur dari seberapa lama seseorang menahan lapar, tetapi dari sejauh mana terjadi perubahan dalam kepribadian dan perilaku.

Jika setelah Ramadhan seseorang menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah ﷻ, maka puasa telah mencapai tujuannya.


Kapan ke Lawu Lagi : Semangat Muda Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D.

Suatu hari aku resmi menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Solo.

Sebagai anak desa yang baru pertama kali menginjak kampus sebesar itu, aku benar-benar nggumun. Gedungnya tinggi, pepohonannya rindang, tamannya rapi. Rasanya seperti masuk dunia lain, dunia di mana semua orang terlihat pintar, sementara aku masih bingung mencari kantin.

Di sudut gedung, berdiri seorang laki-laki gagah. Wajahnya tenang, posturnya tegap. Sedikit lebih tua dariku.

Dengan percaya diri ala mahasiswa baru, aku mendekat.

“Mas… asmane sinten?”

Beliau tersenyum.

Aku kembali ke kost hari itu dengan perasaan bangga karena merasa sudah kenal kakak tingkat senior.

Takdir memang punya selera humor.

Beberapa hari kemudian, di kelas pertama, orang yang sama masuk dan berdiri di depan.

“Selamat pagi. Saya Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D.”

Aku ingin menghilang di balik meja.

Ternyata bukan kakak tingkat.
Bukan mahasiswa abadi.

Beliau dosen Pendidikan Biologi. Pengampu Klasifikasi dan Keanekaragaman Hewan.

Dan aku sudah memanggilnya “Mas”.

Sebagai dosen muda, beliau dekat dengan mahasiswa. Gagah, wibawa, tapi santai. Cara mengajarnya tidak cuma teori. Kami diajak terjun langsung ke lapangan.

Puncaknya: ekspedisi penelitian ke Gunung Lawu di wilayah Karanganyar.

Misinya serius: inventarisasi plankton di Telaga Madirda dan mengkaji struktur komunitas makrofauna tanah. Kedengarannya ilmiah sekali.

Tim penelitian angkatan 2002 terdiri dari tiga srikandi tangguh : Dwi Rianasari ; Briti Pulung Sari ; Dewi Puspitasari.

Sementara aku?
Spesialis terpeleset.

Pendakian dilakukan lewat berbagai jalur: Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Ngargoyoso, bahkan sampai Jogorogo.

Semangat membara.
Fisik? Ya… seadanya. Gaya? Jangan ditanya.

Aku mengenakan jaket tebal warna hijau kebesaran. Lengan jaketnya sampai menutup setengah telapak tangan. Dari jauh mungkin terlihat seperti anak hilang yang salah kostum.

Di kaki?
Sandal jepit merek Swallow.

Ya. Naik gunung pakai Swallow.

Itu bukan gaya minimalis. Itu kombinasi antara nekat dan tidak punya sepatu gunung.

Jalur makin licin. Hujan rintik turun pelan. Tanah berubah jadi lumpur.

Dan seperti takdir yang sudah menungguku…

Aku terpeleset.

Bruk.

“Haha… keserodot!” teriak teman-teman sambil tertawa.

Aku bangkit dengan wibawa yang tersisa 3%.

Belum selesai penderitaanku.

Langkah berikutnya, sandal Swallow-ku menginjak sesuatu yang teksturnya… terlalu lembut untuk jadi tanah.

Aku menoleh.

Oh tidak.

Itu bukan makrofauna.

Itu kotoran manusia.

Dalam kondisi panik dan refleks tanpa berpikir, sandal itu kuangkat… dan sempat kupegang.

Beberapa detik hening.

Lalu suara tawa meledak lebih keras dari badai. Di tengah rasa jijik, malu, dan dingin, aku sadar satu hal: Gunung Lawu bukan hanya menguji fisik. Tapi juga harga diri.

Malam hari di Lawu punya suasana berbeda.

Kabut turun perlahan. Angin menyusup di sela jaket kebesaran yang ternyata tidak terlalu membantu. Pepohonan bergesekan menghasilkan suara seperti bisikan.

Di salah satu titik pendakian, Pak Puguh berhenti sejenak dan berkata pelan,

“Di Lawu ada pitutur tua:
‘Sak duwur duwur e gunung isih duwur dengkul,
sak duwur duwur e dengkul isih duwur gundul,
sak duwur duwur e gundul isih duwur Allah Kang Maha Luhur.’”

Kami terdiam.

Di tengah gelap, kalimat itu terasa dalam.

Setinggi-tingginya gunung, masih lebih tinggi lutut.
Setinggi-tingginya lutut, masih lebih tinggi kepala yang gundul.
Dan setinggi-tingginya apa pun, tetap lebih tinggi Allah.

Angin berembus pelan.
Seolah ikut mengamini.

Tak ada suara aneh.
Tak ada desis misterius.

Hanya suara langkah kami, napas yang berat, dan sesekali celetukan,

“Awas… jangan sampai keserodot lagi!”

Ekspedisi itu penuh tawa, lumpur, Royco.

Yang paling legendaris dari ekspedisi itu bukan hanya penelitian.

Tapi masakan Pak Puguh.

Beliau ternyata hobi memasak.

Namun ada satu rahasia dapur yang konsisten:
Royco.

Semua diberi Royco.

Sayur? Royco.
Sup? Royco.
Nasi goreng? Royco.
Roti bakar?

…juga Royco.


Mungkin, kalau beliau menemukan spesies baru di Lawu, akan dinamai Makrofauna roycoensis.

Anehnya, semua tetap habis. Karena di gunung, rasa lapar mengalahkan logika.

Tapi yang paling membekas bukanlah terpelesetnya.
Bukan sandal Swallow-ku.
Bukan pula tragedi “struktur tak teridentifikasi” itu.

Melainkan pelajaran sederhana:

Kita boleh mendaki setinggi mungkin.
Meneliti sedalam mungkin.
Tertawa sekencang mungkin.

Tapi tetap harus rendah hati.

Karena di atas gunung, di tengah kabut dan gelap, kita sadar…

Manusia itu kecil.

Bahkan lebih kecil dari sandal Swallow yang salah injak tempat.

Pak Puguh bukan sekadar dosen. Beliau mengajarkan kami mencintai lingkungan. Menghormati alam. Menjaga sikap di mana pun berada.

Peserta Didik KB Al Hidayah Belajar dan Berpetualang di Kebun Alpukat Pak Harto




Demangan, Pijiharjo — Peserta didik KB Al Hidayah melaksanakan kegiatan outing class yang menyenangkan dan edukatif di kebun alpukat milik Pak Harto, yang berlokasi di Dusun Demangan, Desa Pijiharjo. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan anak-anak pada lingkungan alam serta proses tumbuhnya buah alpukat secara langsung.


Dengan penuh semangat, para peserta didik berjalan menyusuri kebun sambil mendengarkan penjelasan dari Pak Harto tentang cara merawat pohon alpukat hingga siap panen. Anak-anak tampak antusias ketika diperbolehkan memetik buah alpukat langsung dari pohonnya.

Setelah kegiatan di kebun, anak-anak bersama guru membuat jus alpukat segar dari hasil petikan mereka sendiri. Kegiatan ini tidak hanya melatih motorik dan kemandirian anak, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur serta cinta terhadap alam dan hasil bumi.

Melalui outing class ini, KB Al Hidayah berharap peserta didik dapat belajar dengan cara yang menyenangkan sambil mengenal lebih dekat sumber makanan sehat dari lingkungan sekitar.

Rangsang Motorik Halus : Anak-anak KB Al Hidayah Antusias Belajar Melipat Kertas

Demangan, Pijiharjo – Suasana belajar penuh keceriaan tampak di ruang kelas KB Al Hidayah Demangan Pijiharjo. Pada kegiatan hari ini, anak-anak terlihat antusias mengikuti pembelajaran keterampilan motorik halus melalui aktivitas melipat kertas (origami).

Dengan bimbingan guru, para siswa berhasil membuat bentuk perahu sederhana dari kertas warna-warni. Hasil karya mereka kemudian ditempelkan di kertas putih dan dengan bangga ditunjukkan di depan kelas. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga mengasah konsentrasi, ketelitian, dan koordinasi tangan-mata anak.

Ibu guru yang mendampingi menyampaikan bahwa melalui kegiatan seperti ini anak-anak dapat belajar sambil bermain. "Anak-anak jadi lebih bersemangat karena mereka bisa langsung melihat hasil lipatan kertas menjadi bentuk yang menarik," ujarnya dengan senyum.

Melalui kegiatan pembelajaran kreatif seperti ini, KB Al Hidayah Demangan Pijiharjo berkomitmen untuk terus memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi perkembangan anak.

7 Peserta Didik KB Al Hidayah Pijiharjo Siap Melanjutkan Pendidikan ke Jenjang Lebih Tinggi

Pijiharjo, 19 Juni 2025 – Sebanyak tujuh peserta didik Kelompok Bermain (KB) Al Hidayah Pijiharjo secara resmi dilepas dalam sebuah acara sederhana namun penuh makna. Kegiatan pelepasan ini menjadi momentum penting bagi anak-anak yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Acara pelepasan dilaksanakan di KB Al Hidayah, dihadiri oleh orang tua peserta didik dan guru. Kegiatan ditandai dengan penyerahan hasil belajar seraya bermain, rapor, dan ijazah kepada masing-masing peserta didik.

Sebagai bentuk kenang-kenangan, masing-masing anak menerima samir kelulusan. Kegiatan pelepasan ini menjadi penanda bahwa proses pendidikan anak usia dini yang dijalani di KB Al Hidayah telah berjalan dengan baik, sebagai fondasi awal menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Back To Top