biotek multi karya

Selamat Berkarya!

IB

IBX5A91769239082
KB AL HIDAYAH DEMANGAN = MEMPERSIAPKAN ANAK KE JENJANG PENDIDIKAN YANG LEBIH TINGGI dipersembahkan oleh : Biotek Multi Karya "KAMI SIAP MELAYANI ANDA : FOTO KOPI, CETAK ULEM, DEPOSIT PULSA, PRINT, DEKORASI, RIAS PENGANTIN"

Kapan ke Lawu Lagi : Semangat Muda Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D.

Suatu hari aku resmi menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Solo.

Sebagai anak desa yang baru pertama kali menginjak kampus sebesar itu, aku benar-benar nggumun. Gedungnya tinggi, pepohonannya rindang, tamannya rapi. Rasanya seperti masuk dunia lain, dunia di mana semua orang terlihat pintar, sementara aku masih bingung mencari kantin.

Di sudut gedung, berdiri seorang laki-laki gagah. Wajahnya tenang, posturnya tegap. Sedikit lebih tua dariku.

Dengan percaya diri ala mahasiswa baru, aku mendekat.

“Mas… asmane sinten?”

Beliau tersenyum.

Aku kembali ke kost hari itu dengan perasaan bangga karena merasa sudah kenal kakak tingkat senior.

Takdir memang punya selera humor.

Beberapa hari kemudian, di kelas pertama, orang yang sama masuk dan berdiri di depan.

“Selamat pagi. Saya Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D.”

Aku ingin menghilang di balik meja.

Ternyata bukan kakak tingkat.
Bukan mahasiswa abadi.

Beliau dosen Pendidikan Biologi. Pengampu Klasifikasi dan Keanekaragaman Hewan.

Dan aku sudah memanggilnya “Mas”.

Sebagai dosen muda, beliau dekat dengan mahasiswa. Gagah, wibawa, tapi santai. Cara mengajarnya tidak cuma teori. Kami diajak terjun langsung ke lapangan.

Puncaknya: ekspedisi penelitian ke Gunung Lawu di wilayah Karanganyar.

Misinya serius: inventarisasi plankton di Telaga Madirda dan mengkaji struktur komunitas makrofauna tanah. Kedengarannya ilmiah sekali.

Tim penelitian angkatan 2002 terdiri dari tiga srikandi tangguh : Dwi Rianasari ; Briti Pulung Sari ; Dewi Puspitasari.

Sementara aku?
Spesialis terpeleset.

Pendakian dilakukan lewat berbagai jalur: Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Ngargoyoso, bahkan sampai Jogorogo.

Semangat membara.
Fisik? Ya… seadanya. Gaya? Jangan ditanya.

Aku mengenakan jaket tebal warna hijau kebesaran. Lengan jaketnya sampai menutup setengah telapak tangan. Dari jauh mungkin terlihat seperti anak hilang yang salah kostum.

Di kaki?
Sandal jepit merek Swallow.

Ya. Naik gunung pakai Swallow.

Itu bukan gaya minimalis. Itu kombinasi antara nekat dan tidak punya sepatu gunung.

Jalur makin licin. Hujan rintik turun pelan. Tanah berubah jadi lumpur.

Dan seperti takdir yang sudah menungguku…

Aku terpeleset.

Bruk.

“Haha… keserodot!” teriak teman-teman sambil tertawa.

Aku bangkit dengan wibawa yang tersisa 3%.

Belum selesai penderitaanku.

Langkah berikutnya, sandal Swallow-ku menginjak sesuatu yang teksturnya… terlalu lembut untuk jadi tanah.

Aku menoleh.

Oh tidak.

Itu bukan makrofauna.

Itu kotoran manusia.

Dalam kondisi panik dan refleks tanpa berpikir, sandal itu kuangkat… dan sempat kupegang.

Beberapa detik hening.

Lalu suara tawa meledak lebih keras dari badai. Di tengah rasa jijik, malu, dan dingin, aku sadar satu hal: Gunung Lawu bukan hanya menguji fisik. Tapi juga harga diri.

Malam hari di Lawu punya suasana berbeda.

Kabut turun perlahan. Angin menyusup di sela jaket kebesaran yang ternyata tidak terlalu membantu. Pepohonan bergesekan menghasilkan suara seperti bisikan.

Di salah satu titik pendakian, Pak Puguh berhenti sejenak dan berkata pelan,

“Di Lawu ada pitutur tua:
‘Sak duwur duwur e gunung isih duwur dengkul,
sak duwur duwur e dengkul isih duwur gundul,
sak duwur duwur e gundul isih duwur Allah Kang Maha Luhur.’”

Kami terdiam.

Di tengah gelap, kalimat itu terasa dalam.

Setinggi-tingginya gunung, masih lebih tinggi lutut.
Setinggi-tingginya lutut, masih lebih tinggi kepala yang gundul.
Dan setinggi-tingginya apa pun, tetap lebih tinggi Allah.

Angin berembus pelan.
Seolah ikut mengamini.

Tak ada suara aneh.
Tak ada desis misterius.

Hanya suara langkah kami, napas yang berat, dan sesekali celetukan,

“Awas… jangan sampai keserodot lagi!”

Ekspedisi itu penuh tawa, lumpur, Royco.

Yang paling legendaris dari ekspedisi itu bukan hanya penelitian.

Tapi masakan Pak Puguh.

Beliau ternyata hobi memasak.

Namun ada satu rahasia dapur yang konsisten:
Royco.

Semua diberi Royco.

Sayur? Royco.
Sup? Royco.
Nasi goreng? Royco.
Roti bakar?

…juga Royco.


Mungkin, kalau beliau menemukan spesies baru di Lawu, akan dinamai Makrofauna roycoensis.

Anehnya, semua tetap habis. Karena di gunung, rasa lapar mengalahkan logika.

Tapi yang paling membekas bukanlah terpelesetnya.
Bukan sandal Swallow-ku.
Bukan pula tragedi “struktur tak teridentifikasi” itu.

Melainkan pelajaran sederhana:

Kita boleh mendaki setinggi mungkin.
Meneliti sedalam mungkin.
Tertawa sekencang mungkin.

Tapi tetap harus rendah hati.

Karena di atas gunung, di tengah kabut dan gelap, kita sadar…

Manusia itu kecil.

Bahkan lebih kecil dari sandal Swallow yang salah injak tempat.

Pak Puguh bukan sekadar dosen. Beliau mengajarkan kami mencintai lingkungan. Menghormati alam. Menjaga sikap di mana pun berada.

Peserta Didik KB Al Hidayah Belajar dan Berpetualang di Kebun Alpukat Pak Harto




Demangan, Pijiharjo — Peserta didik KB Al Hidayah melaksanakan kegiatan outing class yang menyenangkan dan edukatif di kebun alpukat milik Pak Harto, yang berlokasi di Dusun Demangan, Desa Pijiharjo. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan anak-anak pada lingkungan alam serta proses tumbuhnya buah alpukat secara langsung.


Dengan penuh semangat, para peserta didik berjalan menyusuri kebun sambil mendengarkan penjelasan dari Pak Harto tentang cara merawat pohon alpukat hingga siap panen. Anak-anak tampak antusias ketika diperbolehkan memetik buah alpukat langsung dari pohonnya.

Setelah kegiatan di kebun, anak-anak bersama guru membuat jus alpukat segar dari hasil petikan mereka sendiri. Kegiatan ini tidak hanya melatih motorik dan kemandirian anak, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur serta cinta terhadap alam dan hasil bumi.

Melalui outing class ini, KB Al Hidayah berharap peserta didik dapat belajar dengan cara yang menyenangkan sambil mengenal lebih dekat sumber makanan sehat dari lingkungan sekitar.

Rangsang Motorik Halus : Anak-anak KB Al Hidayah Antusias Belajar Melipat Kertas

Demangan, Pijiharjo – Suasana belajar penuh keceriaan tampak di ruang kelas KB Al Hidayah Demangan Pijiharjo. Pada kegiatan hari ini, anak-anak terlihat antusias mengikuti pembelajaran keterampilan motorik halus melalui aktivitas melipat kertas (origami).

Dengan bimbingan guru, para siswa berhasil membuat bentuk perahu sederhana dari kertas warna-warni. Hasil karya mereka kemudian ditempelkan di kertas putih dan dengan bangga ditunjukkan di depan kelas. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga mengasah konsentrasi, ketelitian, dan koordinasi tangan-mata anak.

Ibu guru yang mendampingi menyampaikan bahwa melalui kegiatan seperti ini anak-anak dapat belajar sambil bermain. "Anak-anak jadi lebih bersemangat karena mereka bisa langsung melihat hasil lipatan kertas menjadi bentuk yang menarik," ujarnya dengan senyum.

Melalui kegiatan pembelajaran kreatif seperti ini, KB Al Hidayah Demangan Pijiharjo berkomitmen untuk terus memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi perkembangan anak.

7 Peserta Didik KB Al Hidayah Pijiharjo Siap Melanjutkan Pendidikan ke Jenjang Lebih Tinggi

Pijiharjo, 19 Juni 2025 – Sebanyak tujuh peserta didik Kelompok Bermain (KB) Al Hidayah Pijiharjo secara resmi dilepas dalam sebuah acara sederhana namun penuh makna. Kegiatan pelepasan ini menjadi momentum penting bagi anak-anak yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Acara pelepasan dilaksanakan di KB Al Hidayah, dihadiri oleh orang tua peserta didik dan guru. Kegiatan ditandai dengan penyerahan hasil belajar seraya bermain, rapor, dan ijazah kepada masing-masing peserta didik.

Sebagai bentuk kenang-kenangan, masing-masing anak menerima samir kelulusan. Kegiatan pelepasan ini menjadi penanda bahwa proses pendidikan anak usia dini yang dijalani di KB Al Hidayah telah berjalan dengan baik, sebagai fondasi awal menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

BEDIDING MENYAPA: PERTANDA MUSIM KEMARAU TELAH TIBA

Pagi ini tidak seperti hari biasanya. Udara terasa lebih sejuk, menyapa tubuh yang masih enggan beranjak dari hangatnya selimut. Mentari tampak malu-malu menampakkan sinarnya, tertahan oleh kabut tipis yang menggantung di udara. Inilah yang masyarakat Jawa kenal sebagai “bediding”.

“Bediding” merupakan istilah lokal yang merujuk pada kondisi suhu udara pagi yang sangat dingin, biasanya terjadi di dataran tinggi maupun wilayah pedesaan. Fenomena ini kerap dirasakan antara bulan Juni hingga Agustus. Suhu di pagi hari bisa turun drastis, bahkan di bawah 15°C di daerah pegunungan.

Menurut para ahli klimatologi, bediding menandai datangnya musim kemarau. Hal ini terjadi karena pergerakan angin dari Benua Australia yang sedang mengalami musim dingin. Angin ini membawa udara kering dan dingin ke wilayah Indonesia bagian selatan, terutama Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Selain udara dingin, ciri khas musim kemarau lainnya mulai terasa: langit cerah, udara kering, dan tanah yang mulai berdebu. Mari kita jaga kesehatan tubuh, mengenakan pakaian hangat di pagi hari dan mengonsumsi cukup air putih agar tubuh tetap bugar.

Meski bediding kerap dikaitkan dengan rasa malas beraktivitas, justru momen ini bisa menjadi pengingat untuk bersiap menghadapi musim kemarau yang panjang. Mulai dari menjaga pasokan air bersih, mengantisipasi kebakaran lahan, hingga menyesuaikan pola tanam bagi para petani.

Musim boleh berganti, tetapi semangat untuk menjaga lingkungan dan kesehatan harus tetap menyala. Bediding bukan hanya pertanda cuaca, tetapi juga isyarat dari alam untuk lebih peduli dan bersiap. (red :  AI)

Back To Top