Selamat Berkarya!

IB

IBX5A91769239082
KB AL HIDAYAH DEMANGAN = MEMPERSIAPKAN ANAK KE JENJANG PENDIDIKAN YANG LEBIH TINGGI dipersembahkan oleh : Biotek Multi Karya "KAMI SIAP MELAYANI ANDA : FOTO KOPI, CETAK ULEM, DEPOSIT PULSA, PRINT, DEKORASI, RIAS PENGANTIN"

SYUKUR: KUNCI KETENANGAN DAN KEBERKAHAN HIDUP

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering berlomba menjadi lebih banyak, lebih tinggi, lebih cepat, lebih hebat. Target demi target kita pasang, standar demi standar kita naikkan. Namun jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya dengan jujur pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mensyukuri yang ada?

Syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah yang meluncur ringan di bibir. Ia adalah kesadaran terdalam bahwa hidup ini dipenuhi karunia—bahkan dalam hal-hal yang kita anggap biasa. Nafas yang masih teratur. Langkah yang masih mampu berjalan. Pagi yang masih memberi kesempatan memperbaiki kesalahan kemarin.

 


Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

 

Ayat ini bukan hanya janji spiritual, tetapi juga hukum kehidupan. Syukur menghadirkan keberlimpahan—bukan selalu dalam bentuk materi, melainkan dalam bentuk ketenangan, kejernihan hati, dan kekuatan jiwa. Ada orang yang hartanya sederhana, tetapi hidupnya terasa lapang. Ada pula yang berlimpah secara materi, namun batinnya sempit. Perbedaannya sering kali terletak pada satu hal: kemampuan bersyukur.

Orang yang bersyukur melihat hidup dengan kacamata yang berbeda.
Ia tidak sibuk bertanya, “Mengapa aku tidak punya?

Ia justru bertanya, “Apa yang sudah Allah beri hari ini?”

Ia tidak terjebak dalam kekurangan, tetapi menghargai keberadaan.

Ia tidak membandingkan diri dengan orang lain, tetapi mengoptimalkan amanah yang ada di tangannya.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika mendapat kesulitan ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999)

Hadis ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar reaksi terhadap situasi menyenangkan. Ia adalah karakter yang menetap dalam jiwa. Dalam lapang ia bersyukur. Dalam sempit ia bersabar. Keduanya sama-sama bernilai di sisi Allah.

Banyak orang mengira bersyukur berarti pasrah tanpa usaha. Padahal justru sebaliknya. Syukur melahirkan energi untuk bertumbuh. Orang yang bersyukur tidak berhenti bergerak, tetapi ia bergerak dengan hati yang tenang.

Orang yang bersyukur:

  • Lebih tahan terhadap tekanan
  • Lebih tenang menghadapi kegagalan
  • Lebih optimis menatap masa depan
  • Lebih mudah memaafkan

Penelitian modern pun menunjukkan bahwa praktik syukur berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan mental dan penurunan stres. Dalam bahasa agama, ini disebut sakinah. Dalam bahasa sains, disebut well-being. Esensinya sama: jiwa yang seimbang. Ketentraman itu bukan dibeli, tetapi ditumbuhkan dari kesadaran bahwa Allah ﷻ selalu menghadirkan kebaikan, meski kadang dibungkus dengan ujian.

Coba renungkan sejenak:

Udara yang kita hirup tanpa membayar.

Kesehatan yang memungkinkan kita beraktivitas.

Keluarga yang menjadi tempat kembali.

Pekerjaan yang memberi makna.

Bahkan ujian sekalipun bisa menjadi nikmat tersembunyi. Ia mendewasakan, menguatkan, dan sering kali mendekatkan kita kepada Allah. Banyak orang baru menyadari nilai sebuah nikmat ketika ia telah hilang. Padahal syukur sejati adalah menghargai sebelum kehilangan.

Syukur adalah kemampuan melihat cahaya, meski dalam ruang yang redup.
Ia tidak mengubah keadaan secara instan, tetapi mengubah cara kita memandang keadaan. Dan ketika cara pandang berubah, hidup pun terasa berbeda.

Mungkin kita tidak memiliki segalanya. Tetapi jika hati mampu bersyukur, kita tidak akan merasa kekurangan apa pun yang benar-benar penting.

Karena pada akhirnya, bukan banyaknya nikmat yang menentukan kebahagiaan
melainkan kemampuan kita untuk mengenalinya.

0 Comment for "SYUKUR: KUNCI KETENANGAN DAN KEBERKAHAN HIDUP"

Back To Top