Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering berlomba menjadi lebih banyak, lebih tinggi, lebih cepat, lebih hebat. Target demi target kita pasang, standar demi standar kita naikkan. Namun jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya dengan jujur pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mensyukuri yang ada?
Syukur bukan
sekadar ucapan Alhamdulillah yang meluncur ringan di bibir. Ia adalah
kesadaran terdalam bahwa hidup ini dipenuhi karunia—bahkan dalam hal-hal yang
kita anggap biasa. Nafas yang masih teratur. Langkah yang masih mampu berjalan.
Pagi yang masih memberi kesempatan memperbaiki kesalahan kemarin.
Allah ﷻ
menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Jika kamu
bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini bukan
hanya janji spiritual, tetapi juga hukum kehidupan. Syukur menghadirkan
keberlimpahan—bukan selalu dalam bentuk materi, melainkan dalam bentuk
ketenangan, kejernihan hati, dan kekuatan jiwa. Ada orang yang hartanya
sederhana, tetapi hidupnya terasa lapang. Ada pula yang berlimpah secara
materi, namun batinnya sempit. Perbedaannya sering kali terletak pada satu hal:
kemampuan bersyukur.
Orang yang
bersyukur melihat hidup dengan kacamata yang berbeda.
Ia tidak sibuk bertanya, “Mengapa aku tidak punya?
Ia justru
bertanya, “Apa yang sudah Allah beri hari ini?”
Ia tidak
terjebak dalam kekurangan, tetapi menghargai keberadaan.
Ia tidak
membandingkan diri dengan orang lain, tetapi mengoptimalkan amanah yang ada di
tangannya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Sungguh
menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat
kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika mendapat kesulitan ia
bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999)
Hadis ini
menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar reaksi terhadap situasi menyenangkan. Ia
adalah karakter yang menetap dalam jiwa. Dalam lapang ia bersyukur. Dalam
sempit ia bersabar. Keduanya sama-sama bernilai di sisi Allah.
Banyak orang
mengira bersyukur berarti pasrah tanpa usaha. Padahal justru sebaliknya. Syukur
melahirkan energi untuk bertumbuh. Orang yang bersyukur tidak berhenti
bergerak, tetapi ia bergerak dengan hati yang tenang.
Orang yang
bersyukur:
- Lebih tahan terhadap tekanan
- Lebih tenang menghadapi kegagalan
- Lebih optimis menatap masa depan
- Lebih mudah memaafkan
Penelitian
modern pun menunjukkan bahwa praktik syukur berkorelasi dengan peningkatan
kesejahteraan mental dan penurunan stres. Dalam bahasa agama, ini disebut sakinah.
Dalam bahasa sains, disebut well-being. Esensinya sama: jiwa yang
seimbang. Ketentraman itu bukan dibeli, tetapi ditumbuhkan dari kesadaran bahwa
Allah ﷻ selalu menghadirkan kebaikan, meski kadang dibungkus dengan ujian.
Coba renungkan
sejenak:
Udara yang kita
hirup tanpa membayar.
Kesehatan yang
memungkinkan kita beraktivitas.
Keluarga yang
menjadi tempat kembali.
Pekerjaan yang
memberi makna.
Bahkan ujian
sekalipun bisa menjadi nikmat tersembunyi. Ia mendewasakan, menguatkan, dan
sering kali mendekatkan kita kepada Allah. Banyak orang baru menyadari nilai
sebuah nikmat ketika ia telah hilang. Padahal syukur sejati adalah menghargai
sebelum kehilangan.
Syukur adalah
kemampuan melihat cahaya, meski dalam ruang yang redup.
Ia tidak mengubah keadaan secara instan, tetapi mengubah cara kita memandang
keadaan. Dan ketika cara pandang berubah, hidup pun terasa berbeda.
Mungkin kita
tidak memiliki segalanya. Tetapi jika hati mampu bersyukur, kita tidak akan
merasa kekurangan apa pun yang benar-benar penting.
Karena pada
akhirnya, bukan banyaknya nikmat yang menentukan kebahagiaan
melainkan kemampuan kita untuk mengenalinya.

0 Comment for "SYUKUR: KUNCI KETENANGAN DAN KEBERKAHAN HIDUP"